▴ZONA INTEGRITAS▴ Merajut Literasi dari Akar Budaya: IAIN SAS Babel & Kemenag Belitung Satukan Langkah Lewat FGD & MoU

Gambar : Foto IAIN SAS Babel dan Kemenag Belitung Satukan Langkah Lewat FGD dan MoU
Tanjungpandan (8/12) — Seperti menenun benang-benang kearifan lokal menjadi kain pendidikan yang utuh, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik (SAS) Bangka Belitung melalui Fakultas Tarbiyah menggelar Focus Group Discussion (FGD) Literasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berbasis Budaya Permainan Tradisional Belitung, sekaligus melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Belitung. Kegiatan ini berlangsung di Kantor Kemenag Belitung, Senin (8/12/2025).
FGD ini menjadi ruang temu gagasan untuk menggali, merawat, dan menghidupkan kembali permainan tradisional Belitung sebagai sumber literasi PAUD yang kontekstual dan berakar kuat pada kearifan lokal.
Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN SAS Babel, Dr. Hj. Soleha, MA, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar diskusi akademik, melainkan ikhtiar budaya untuk mengembalikan ruh lokal dalam pendidikan anak usia dini.
“Literasi PAUD harus tumbuh dari tanah tempat anak berpijak. Tidak hanya kearifan lokal Bangka, tetapi juga Belitung, agar menjadi penguat identitas dan karakter peserta didik, khususnya di Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD),” ujarnya.
Apresiasi disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Belitung, H. Suyanto, S.Ag, M.E, yang didampingi Plt. Kasi Pendidikan Madrasah Hj. Marlina, S.HI dan Ketua Pokjawas Dra. Hj. Susinawati. Ia menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya memperkuat pemahaman dan implementasi literasi PAUD yang relevan dengan perkembangan anak serta berakar pada nilai-nilai budaya lokal.
FGD menghadirkan budayawan dan sejarawan Belitung, H. Salim YAH, S. Pd. Ek., sebagai narasumber utama. Dalam paparannya, ia mengurai kekayaan adat budaya dan ragam permainan tradisional Belitung yang sarat makna. Menurutnya, permainan tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan media pembelajaran yang menyenangkan, edukatif, dan kaya nilai karakter.
“Di dalam permainan tradisional tertanam nilai kebersamaan, sportivitas, kreativitas, serta kecerdasan sosial-emosional anak. Bahkan bahasa Melayu Belitung perlu diperkenalkan sejak dini agar anak mencintai jati dirinya,” tuturnya.
Kegiatan ini diikuti para guru Raudhatul Athfal (RA) se-Kabupaten Belitung. Diskusi berlangsung hidup dan interaktif, dengan sesi tanya jawab yang mempertemukan pengalaman praktis guru dan perspektif budaya narasumber. Para peserta menyambut antusias dan menilai kegiatan ini sangat bermanfaat bagi pengayaan pembelajaran di satuan PAUD.
Sebagai penegasan komitmen bersama, acara dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara IAIN SAS Bangka Belitung dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Belitung. MoU ini menjadi tonggak sinergi dalam penguatan literasi PAUD berbasis budaya lokal yang berkelanjutan.
Melalui kerja sama ini, diharapkan terjalin kemitraan strategis dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—dengan prinsip saling menguatkan dan memberi manfaat timbal balik, demi mencetak generasi emas yang berakar pada budaya dan siap menatap masa depan. Aamiin. (SO)
1.png)




